Dunia musik populer Korea Selatan atau yang lebih dikenal dengan K-Pop telah bertransformasi dari sekadar kegemaran mendengarkan lagu menjadi sebuah budaya partisipatif yang sangat masif. Di lingkungan SMA Negeri 1 Tangerang, pengaruh ini terlihat sangat nyata dalam berbagai kegiatan sekolah, mulai dari jam istirahat hingga acara pensi tahunan. Salah satu elemen yang paling menarik perhatian adalah semangat para siswa dalam melakukan sorakan terstruktur atau yang akrab disebut sebagai fanchant. Aktivitas ini bukan lagi sekadar teriakan penggemar biasa, melainkan sebuah bentuk sinkronisasi vokal kolektif yang membutuhkan koordinasi dan hafalan yang cukup tinggi di kalangan remaja.
Masuk ke dalam Tren 2026, bentuk apresiasi ini telah mengalami pergeseran fungsi menjadi sarana pemersatu antarangkatan. Jika dahulu fanchant hanya dilakukan saat menonton konser resmi, kini para siswa di Tangerang sering melakukannya secara spontan saat ada pemutaran video musik di area kantin atau aula. Fenomena ini menciptakan atmosfer yang sangat energetik, di mana ratusan suara menyatu dalam ritme yang sama, mengikuti ketukan lagu dari grup idola favorit mereka. Keunikan dari aktivitas ini adalah bagaimana setiap individu harus menghafal urutan nama anggota grup atau lirik tertentu yang disisipkan di sela-sela lagu, yang secara tidak langsung melatih daya ingat dan fokus para pelajar tersebut.
Munculnya fenomena fanchant K-Pop ini juga memberikan dampak psikologis yang positif bagi kesehatan mental siswa di tengah tekanan kurikulum yang padat. Melakukan sorakan bersama memberikan efek katarsis atau pelepasan emosi yang menyehatkan. Di SMA Negeri 1 Tangerang, para guru mulai melihat hal ini sebagai bentuk kreativitas positif asalkan dilakukan pada waktu yang tepat. Terkadang, kelompok penggemar atau fanbase di sekolah mengorganisir latihan singkat untuk memastikan sorakan mereka terdengar harmonis dan tidak berantakan. Kekompakan ini menunjukkan bahwa musik mampu meruntuhkan sekat-sekat sosial dan membangun solidaritas yang kuat di lingkungan sekolah menengah.
Dari sisi teknis vokal, melakukan sorakan dengan durasi lama dan volume tinggi sebenarnya memiliki tantangan tersendiri. Para siswa mulai menyadari pentingnya teknik pernapasan agar suara tidak cepat serak. Beberapa anggota klub musik di sekolah bahkan memberikan tips singkat tentang cara melakukan sorakan dari diafragma, bukan dari tenggorokan, agar pita suara tetap terlindungi. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh budaya pop juga membawa keinginan untuk belajar teknis dasar suara secara tidak langsung. Kesadaran akan kesehatan vokal ini menjadi bagian penting agar kegembiraan dalam merayakan musik K-Pop tidak berujung pada gangguan kesehatan fisik yang merugikan aktivitas belajar mereka sehari-hari.
