Pancasila, sebagai ideologi negara Indonesia, bukanlah entitas yang berdiri sendiri tanpa akar. Sebaliknya, ia dibangun di atas Dasar Adat Bangsa yang kaya, nilai-nilai luhur yang telah mengalir dalam tradisi dan kearifan lokal Nusantara selama berabad-abad. Pemahaman akan fondasi kultural ini sangat penting dalam edukasi Pancasila, karena ia merupakan inti dari jati diri negeri dan cerminan dari jiwa bangsa Indonesia yang sesungguhnya.
Dasar Adat Bangsa yang membentuk Pancasila berasal dari pengalaman kolektif masyarakat Indonesia. Sebelum Pancasila dirumuskan, nilai-nilai seperti gotong royong, musyawarah untuk mufakat, toleransi, serta semangat kekeluargaan sudah hidup dan diamalkan dalam berbagai komunitas adat. Para pendiri bangsa, termasuk Soekarno, menyadari bahwa Pancasila harus digali dari bumi Indonesia sendiri, bukan mengimpor ideologi asing. Mereka “memeras” sari pati dari nilai-nilai luhur ini menjadi lima sila yang kini kita kenal. Menurut catatan sejarah dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pada 12 Januari 2025, proses penggalian ini melibatkan diskusi mendalam tentang karakteristik unik masyarakat Indonesia.
Edukasi Pancasila yang efektif harus menekankan pada Dasar Adat Bangsa ini. Dengan memahami bahwa Pancasila bukan sekadar dogma, melainkan kristalisasi dari budaya dan tradisi yang telah membentuk identitas kita, generasi muda akan lebih mudah menginternalisasi dan mengamalkan nilai-nilainya. Ini bukan hanya tentang menghafal sila-sila, tetapi tentang menghayati semangat kebersamaan, keadilan, dan kemanusiaan yang telah ada sejak lama. Program-program pendidikan Pancasila di sekolah-sekolah kini lebih banyak mengintegrasikan kearifan lokal dan cerita rakyat yang relevan, seperti yang disampaikan dalam Lokakarya Nasional Kurikulum 2025 pada 20 Maret 2025.
Pentingnya Dasar Adat Bangsa ini juga terlihat dalam upaya menjaga persatuan di tengah keberagaman. Indonesia adalah rumah bagi ribuan suku bangsa dengan adat istiadat yang berbeda. Pancasila berfungsi sebagai benang merah yang menyatukan seluruh perbedaan ini, karena nilai-nilainya bersifat universal namun tetap berakar pada kearifan lokal. Ini adalah pengingat bahwa meskipun beragam, kita memiliki landasan budaya yang sama dalam berbangsa dan bernegara.
Dengan demikian, mengukuhkan pemahaman mengenai Dasar Adat Bangsa dalam edukasi Pancasila adalah langkah strategis untuk memperkuat jati diri negeri. Ini akan memastikan bahwa Pancasila tidak hanya menjadi ideologi di atas kertas, tetapi sungguh-sungguh hidup dan berdenyut dalam setiap praktik kehidupan masyarakat Indonesia.
