Krisis Anak Candu Game kini telah mencapai level yang mengkhawatirkan, di mana dampak negatifnya mulai merusak tatanan belajar di sekolah maupun harmoni di rumah. Fenomena ini bukan lagi sekadar hobi pengisi waktu luang, melainkan sudah menjadi gangguan perilaku yang membuat anak kehilangan minat terhadap realitas. Guru di sekolah seringkali menghadapi siswa yang mengantuk di kelas karena begadang bermain gim, sementara orang tua di rumah merasa telah kehilangan kendali untuk membatasi penggunaan gawai yang sudah dianggap seperti “nyawa kedua” bagi anak mereka.
Masalah Anak Candu Game seringkali membuat guru berada di titik jenuh. Di kelas, konsentrasi anak-anak ini sangat pendek, mereka mudah gelisah jika tidak memegang ponsel, dan nilai-nilai akademik mereka merosot tajam. Upaya guru untuk menyita ponsel seringkali berujung pada protes keras dari siswa atau bahkan kesalahpahaman dengan orang tua. Ketika segala metode pengajaran dan teguran tidak lagi mempan, muncul rasa menyerah dari pendidik karena mereka merasa tidak mendapatkan dukungan yang seimbang dari lingkungan rumah anak.
Di sisi lain, orang tua dari Anak Candu Game mulai menunjukkan sikap pasrah yang berbahaya. Banyak orang tua yang merasa lelah berkonflik setiap hari dengan anak hanya untuk mematikan gim. Akibatnya, mereka memilih jalan damai yang keliru dengan membiarkan anak terus bermain asalkan mereka tidak rewel atau mengganggu di rumah. Padahal, kepasrahan ini justru semakin memperparah ketergantungan anak dan menjauhkan mereka dari keterampilan sosial serta tanggung jawab hidup yang seharusnya dipelajari di masa remaja.
Mengatasi fenomena Anak Candu Game membutuhkan tindakan darurat berupa kolaborasi intensif antara sekolah dan rumah. Guru dan orang tua tidak boleh berjalan sendiri-sendiri apalagi saling menyalahkan. Perlu ada aturan yang tegas dan seragam mengenai batas waktu layar (screen time) yang didukung dengan kegiatan alternatif yang menarik di dunia nyata, seperti olahraga atau hobi kreatif lainnya. Jika tingkat kecanduan sudah sangat parah, bantuan profesional dari psikolog anak menjadi keharusan agar pola saraf anak yang sudah terbiasa dengan dopamin instan dari gim dapat dipulihkan secara perlahan.
